Jakarta - Komnas Perempuan menyayangkan sikap Gubernur DKI Fauzi Bowo yang justru terkesan menyalahkan penumpang perempuan yang memakai rok mini di angkot. Seharusnya Foke bisa bersikap pro kepada perempuan dengan tidak mengungkit soal pakaian.
"Pejabat publik harusnya justru pro pada korban, jangan terjadi viktimisasi pada perempuan," kata Ketua Komnas Perempuan Yunianti Chuzaifah saat dihubungi, Jumat (16/9/2011).
Sebagai pejabat semestinya Foke bisa bersikap fair agar pihak-pihak lain pun bisa ikut menghormati perempuan tanpa melihat apa yang digunakannya.
"Membongkar kesadaran laki-laki agar menghormati orang jangan karena pakaiannya. Pakai pakaian minim atau jilbab harus dihormati," imbuhnya.
Cara pandang yang viktimisasi korban harus dihindari pejabat publik. Semestinya dengan peristiwa pemerkosaan di angkot ini, pemerintah mengambil langkah radikal dalam menciptakan keamanan di jasa angkutan umum. Bukan menyalahkan perempuan.
"Angkot adalah alat paling vital menjangkau penduduk di Jakarta. Harus dibentuk sistem transportasi yang ramah terhadap perempuan," tuturnya.
Selain itu, dari kasus pemerkosaan di angkot D-02 yang menimpa RS ini bisa dipelajari juga bahwa polisi harus lebih cepat dalam merespons laporan kejahatan.
"Di kasus ini korban mencari pelakunya sendiri pembelajaran kepada aparat keadilan harus cepat dan ramah kepada korban, jangan lambat, mahal dan berbelit," tegasnya.
Sebelumnya Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo ikut menyoroti seputar perkosaan di angkutan umum. Selain keamanan perlu ditingkatkan, Foke 'menyentil' gaya berpakaian pengguna angkot.
"Tetapi bayangkan juga kalau orang naik mikrolet, duduk di depan tetapi pakai rok mini, kan agak gerah juga," ujar Foke sambil menunjuk ke arah pahanya menggambarkan rok mini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar